Community Based Tourism Sebagai Strategi Peningkatan Pariwisata Indonesia
![]() |
| logo wonderful indonesia/pesona indonesia (www.indonesia.travel) |
Pengertian Community Based Tourism
.
.
.
Pengembangan daya tarik wisata dilakukan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam usaha meningkatkan dan memperbaiki daya tarik wisata sehingga keberadaan daya tarik wisata akan lebih menarik dimata masyarakat. Pernyataan tersebut di dukung melalui UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Bab 1, Pasal 5 “daya tarik wisata” adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai keberagaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan. Selain itu, pengembangan daya tarik wisata terutama berbagai macam fasilitas serta layanan dapat diperoleh dari masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Kemudian, pengembangan daya tarik wisata telah mendapatkan perhatian lebih sehingga terbentuklah suatu gagasan dimana pengembangan pariwisata diiringi dengan basis komunitas.
.
.
Pengembangan daya tarik wisata dilakukan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam usaha meningkatkan dan memperbaiki daya tarik wisata sehingga keberadaan daya tarik wisata akan lebih menarik dimata masyarakat. Pernyataan tersebut di dukung melalui UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Bab 1, Pasal 5 “daya tarik wisata” adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai keberagaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan. Selain itu, pengembangan daya tarik wisata terutama berbagai macam fasilitas serta layanan dapat diperoleh dari masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Kemudian, pengembangan daya tarik wisata telah mendapatkan perhatian lebih sehingga terbentuklah suatu gagasan dimana pengembangan pariwisata diiringi dengan basis komunitas.
Menurut WTO community based tourism adalah konsep pengembangan pariwisata yang melibatkan masyarakat atau penduduk setempat untuk menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata yang aktif dalam proses pengembangan dan pembangunan pariwisata. Menurut Pinel (2007) Community based tourism merupakan model pengembangan pariwisata yang berasumsi bahwa pariwisata harus berangkat dari kesadaran nilai-nilai kebutuhan masyarakat sebagai upaya membangun pariwisata yang lebih bermanfaat bagi kebutuhan, inisiatif dan peluang masyarakat lokal. Sedangkan penambahan yang dikemukakan oleh Sunaryo (2013:218) menyatakan bahwa untuk mewujudkan pengembangan pariwisata berjalan dengan baik dan dikelola dengan baik maka hal yang paling mendasar dilakukan adalah bagaimana memfasilitasi keterlibatan yang luas dari komunitas lokal dalam proses pengembangan dan memaksimalkan nilai manfaat sosial, ekonomi dari kegiatan pariwisata untuk masyarakat setempat.
Selain itu, bentuk perencanaan yang partisipatif dalam pembangunan pariwisata adalah dengan
Menerapkan Community Based Tourism (CBT) sebagai pendekatan pembangunan.
Definisi CBT yaitu:
(1) bentuk pariwisata yang memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk mengontrol dan terlibat dalam manajemen dan pembangunan pariwisata
(2) masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam usaha-usaha pariwisata juga mendapat keuntungan
(3) menuntut pemberdayaan secara politis dan demokratisasi dan distribusi keuntungan kepada communitas yang kurang beruntung di pedesaan.
Dengan demikian dalam pandangan Hausler CBT merupakan suatu pendekatan pembangunan pariwisata yang menekankan pada masyarakat lokal (baik yang terlibat langsung dalam industri pariwisata maupun tidak) dalam bentuk memberikan kesempatan (akses) dalam manajemen dan pembangunan pariwista yang berujung pada pemberdayaan politis melalaui kehidupan yang lebih demikratis, termasuk dalam pembagian keuntungan dari kegitan pariwisata yang lebih adil bagi masyarakat lokal.
History of Community Based Tourism
Konsep Community Based Tourism (CBT) pertama kali muncul sekitar tahun 1970-an yang dikarenakan adanya kritikan atas dampat negative dari mass tourism. Sehingga di tahun 2000, yaitu Bank Dunia mulai mencari cara bagaimana mengatasi permasalahan kemiskinan melalui sektor pariwisata yang kemudian dikenal sebagai “Community Based Tourism”. Dalam pembentukan gagasan tersebut telah ditentukan 3 kegiatan yang mampu mendukung konsep CBT diantaranya, adventure travel, cultural travel dan ecotourism. Selain itu, pihak Bank Dunia meyakini bahwa tiga kegiatan yang dikemukakan akan mampu meningkatkan taraf hidup kesejahteraan masyarakat setempat dan sekitarnya sekaligus memelihara budaya, kesenian, dan cara hidup masyarakat di sekitarnya.
Tujuan Community Based Tourism
Menurut Sunaryo (2013:219) berdasarkan konsep pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan maka upaya pemberdayaan masyarakat melalui kepariwisataan ditujukan dengan sebagai berikut; (a) meningkatkan kapasitas, peran dan inisiatif masyarakat pembangunan kepariwisataan, (b) meningkatkan posisi dan kualitas keterlibatan atau partisipasi masyarakat, (c) meningkatkan nilai manfaat positif pembangunan kepariwisataan bagi kesejahteraan ekonomi, (d) meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melakukan perjalanan pariwisata.
Gagasan mengenai community based tourism sebagai langkah yang dipakai merupakan hal yang bagus mengingat bahwa untuk meningkatkan profit suatu destinasi pariwisata dibutuhkan suatu layanan yang diperoleh melalui peran masyarakat. Masyarakat sebagai kunci internal untuk menjalankan suatu pengembangan dan pembangunan pariwisata. Dikarenakan melalui interaksi antara wisatawan dengan suatu komunitas maupun penduduk sekitar akan memberikan suatu pengalaman terbaik bagi kedua pihak.
Dari pihak wisatawan selain memperoleh kesenangan juga akan mendapatkan sebuah momen berharga bagaimana wisatawan secara langsung memperoleh penggalan edukasi dari cara kehidupan sosial masyarakat setempat dan mempelajari budaya yang secara turun-temurun diwariskan oleh para leluhur. Serta menumbuhkan rasa untuk menghargai segala budaya yang diterima secara langsung dengan masyarakat setempat.
Bagi masyarakat setempat, adanya interaksi sosial dengan wisatawan menjadi suatu keuntungan untuk memperkenalkan keberagaman yang menarik, potential di kawasan tersebut. Sehingga secara tidak sadar bahwa daya tarik wisata di kawasan tersebut telah menarik perhatian wisatawan untuk meluangkan waktu bersenang-senang dan menikmati layanan hospitality yang disediakan oleh masyarakat.
Melibatkan komponen masyarakat dengan menerapkan pengembangan pariwisata berbasis komunitas memberikan cara terbaru untuk menanggulangi masalah kemiskinan, dan memberikan kontribusi peningkatan pendapatan pemerintah daerah serta meningkatkan pendapat dan kemakmuran masyarakat. Melalui pengembangan pariwisata berbasis komunitas memberikan ruang terbuka bagi penyerapan tenaga kerja sehingga keterampilan yang ada pada masyarakat dapat disalurkan dengan baik dan mengurangi tingkat pengangguran di kalangan masyarakat.
Pengembangan pariwisata berbasis komunitas merupakan salah satu andalan di kepariwisataan yang secara signifikan memberikan kontribusi produk domestic bruto nasional dan di tahun 2015 pencapaian PDB menyentuh 4,23%. Sehingga dengan demikian bahwa dampak ekonomi melalui community based tourism merupakan sektor yang efektif dalam menjawab kebutuhan peningkatan nilai tambah ekonomi dalam menanggulangi kemiskinan (pro poor) dan penciptaan lapangan pekerjaan (pro-job).
Arti Penting Community Based Tourism Bagi Suatu Negara
Konsep CBT sangat memberikan dampak luar biasa untuk meningkatkan grafik pertumbuhan perekonomian Peningkatan perekonomian juga menjadi ukuran akan kualitas hidup suatu negara terhadap cerminan bagaimana keadaan kondisi masyarakat saat ini.
Kebanggan akan keanekaragaman komunitas menjadi identitas bagi suatu negara yang diterapkan dalam pelaksanaan konsep CBT di setiap kawasan yang berpontensi. Oleh karena itu, Yaman dan Mohd (2004) memberikan penjelasan mengenai kunci bagi suatu negara untuk mengatur pembangunan pariwisata melalui pendekatan CBT yaitu,
a. Adanya dukungan pemerintahan, CBT membutuhkan dukungan struktur yang multi instutisonal agar sukses dan berkelanjutan. Pendekatan CBT berorientasi pada manusia yang mendukung pembagian keuntungan dan manfaat yang adil serta mendukung pemberantasan kemiskinan dengan mendorong pemerintah dan masyarakat untuk tetap menjaga sumber daya alam dan Budaya. Pemerintah akan berfungsi sebagai fasilitator,koordinator atau badan penasehat SDM dan penguatan kelembagaan.
b. Partisipasi dari stakeholder, CBT didiskripsikan sebagai variasi aktivitas yang meningkatkan dukungan yang lebih luas terhadap pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat. Konservasi sumber daya juga dimaksudkan sebagai upaya melindungi dalam hal memperbaiki mata pencaharian/penghidupan masyarakat. CBT secara umum bertujuan untuk penganekaragaman industri, peningkatan partisipasi yang lebih luas ini termasuk partisipasi dalam sektor informal, hak dan hubungan langsung dan tidak langsung dari sektor lainnya. Pariwisata berperan dalam pembangunan internal dan mendorong pembangunan aktivitas ekonomi yang lain seperti industri jasa dan lainnya. Anggota masyarakat dengan kemampuan kewirausahaan dapat menentukan/membuat kontak bisnis dengan tour operator, travel agentuntuk memulia bisnis baru.
c. Penggunaan Sumber Daya Lokal Berkesinambungan. Salah satu kekuatan pariwisata adalah ketergantungan yang besar pada sumber daya alam dan budaya setempat. Dimna asset tersebut dimiliki dan dikelola olh seluruh anggota masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, termasuk yang tidak memiliki sumber daya keuangan. Hal ini bisa menumbuhkan kepedulian, penghargaan diri sendiri dan kebanggaan pada seluruh anggota masyarakat. Dengan demikian sumber daya yang ada menjadi lebih meningkat nilai, harga dan menjadi alasan mengapa pengunjung ingin datang ke desa tersebut.
d.Penguatan Institusi Lokal. Pada awalnya peluang usaha pariwisata di daerah pedesaan sulit diatur oleh lembaga yang ada. Penting untuk melibatkan komite dengan anggota berasal dari masyarakat.
Tujuan utamanya adalah mengatur hubungan antara penduduk, sumber daya dan pengunjung. Hal ini jelas membutuhkan perkembangan kelembagaan yang ada di desa tersebut, yang paling baik adalah terbentuk lembaga dengan pimpinan yang dapat diterima semua anggota masyarakat. Penguatan kelembagaan bisa dilakukan melalui pelatihan dan pengembangan individu dengan keterampilan kerja yang diperlukan (teknik, managerial, komunikasi, pengalaman kewirausahaan dan pengalaman organisasi. Penguatan kelembagaan dapat berbentuk forum, perwakilan dan manajemen komite.
Berdasarkan definisi tersebut bahwa peran CBT sangat memberikan dorongan yang bagus dalam meningkatkan segi kemakmuran masyarakat. Selain itu, peringat suatu negara di mata dunia melalui penerapan konsep CBT sebagai cara peningkatan taraf kehidupan suatu negara memberikan pandangan yang positif bagaimana suatu negara tersebut dapat menemukan solusi dan menerapkan solusi melalui konsep CBT sebagai alat alternative dalam mengembangkan potensi dan strategi pengembangan pariwisata di Indonesia.
.
.
.
let's meet up @
instagram:aselaras
.
.
let's meet up @
instagram:aselaras



Comments
Post a Comment